Turing dan radio komunikasi.

“Rem…. rem… rem….!”

Begitu komander (commander/leader/road-captain) memberikan arahan.

Bila pada umumnya barisan kendaraan akan mengerem satu per satu: yang paling depan mengerem, kemudian belakangnya ikut mengerem, belakangnya lagi menyusul mengerem, belakangnya lagi baru mengerem, demikian seterusnya.

Dengan adanya panduan melalui radio komunikasi, barisan konvoi kendaraan akan bisa mengerem lebih serentak, mirip rangkaian gerbong kereta api yang semuanya mengerem secara bersamaan.

Dengan demikian, potensi kecelakaan bisa dikurangi/diminimalisasi.

Itulah salah satu pentingnya radio komunikasi (handy talkie/walkie talkie) dalam konvoi kendaraan, semisal saat kita sedang turing.

Radio komunikasi akan menjadi indera keenam bagi para pengemudi dalam barisan konvoi kendaraan.

“Ah, turing tuh nyantai aja. Yang penting sampai ke tujuan. Saya enggak suka kalo turing musti cepat-cepat, buru-buru, tergesa-gesa!”

“Begini gaes, kita juga enggak mau kelamaan di jalan. Bisa bikin capek, lelah, suntuk, bosan, dan acara turing kita yang menyenangkan malah jadi menjemukan. Makanya kita musti koordinasi melalui radio komunikasi, bisa semua bisa barengan!”

“Begini sajalah: kita terpisah-pisah enggak apa-apa. Yang penting sampai tujuan!”

Yakh, menggunakan radio komunikasi sebenarnya adalah pilihan. Mau turingnya nyantai ataupun cepat sampai, itu pilihan grup konvoi, jika memutuskan untuk konvoi.

Namun jika memilih berkoordinasi dengan rapi, meminimalisasi risiko kecelakaan, apalagi untuk mengefisiensi dan mengektifkan waktu perjalanan, niscaya penggunaan radio komunikasi bukan lagi membantu lancarnya perjalanan, melainkan sudah ikut menentukan kelancaran perjalanan itu sendiri.

Maklum, masing-masing pengemudi itu punya karakternya masing-masing. Ada yang super santai, ada yang fleksibel, ada yang gatel kalo pelan dan sukanya bejek gas.

Dalam konvoi, karakter masing-masing individu wajib dikesampingkan. Yang ada adalah kesepkatan pola/karakter perjalanan, dan tentunya semuanya wajib tetap patuh dan tunduk pada aturan lalu-lintas jalan raya.

***

Sepulang Indonesian Bimmerfest 2015, ada konvoi gabungan antara Purwokerto Chapter, Yogyakarta Chapter, dan Kediri Chapter melintasi jalur selatan pulau Jawa.

Membelah malam, sepuluh unit kendaraan roda empat (KR4) melaju dengan kecepatan batas maksimal di ruas berliku-liku berkelok-kelok di jalur selatan Jawa Barat – Jawa Tengah.

Komandernya kala itu adalah Om Nico Wijaya dari Purwokerto Chapter. Selain cukup hafal dengan medan perjalanan, beliau juga sangat lihai memandu tim yang dipimpinnya:

  • Memberikan instruksi berapa kendaraan yang bisa mendahului sebuah truk di jalanan berkelok yang normalnya adalah medan blind-spot;
  • Mengabsen secara berkala tim/peserta konvoi sekaligus menanyakan kondisi temperatur masing-masing;
  • Menginformasikan kondisi lalu-lintas dari depan pun kondisi aspal/jalanan;
  • Mencairkan suasana dengan becanda sekaligus mem-break ketika harus ada instruksi yang wajib didengar dan dipatuhi bersama.

Lainnya itu, barisan/rombongan konvoi ditutup oleh sweeper yang juga mempuni:

  • Menginformasikan dan meminta space jika ada kendaraan dari belakang yang hendak mendahului. Pada prinsipnya, konvoi itu pasti megganggu perjalanan pengguna jalan lain. Itulah kenapa peserta konvoi-lah yang wajib mengalah jika ada kepentingan bersama dengan pengguna jalan lain, bukan pengguna jalan lain yang harus mengalah dengan konvoi kita.
  • Memberikan ijin saat barisan konvoi yang berhenti di bahu jalan hendak kembali melanjutkan perjalanan dan harus ‘naik’ ke aspal jalanan. Sweeper-lah yang paling tahu kondisi lalu-lintas dari belakang konvoi.
  • Aktif melaporkan situasi: lolos lampu merah, telah melampaui titik-titik tertentu, dll.

Prinsip dasarnya: komander rajin menginformasikan, sweeper rajin melaporkan.

Namun bukan berarti peserta yang di tengah bisa enjoy seenaknya dan membiarkan komander dan sweeper yang sibuk bekerja.

Para peserta yang di tengah juga harus aktif menjadi interceptor: mengulang/meneruskan informasi dari komander ke sweeper atau sebaliknya, in case sinyal terputus. Atau melaporkan jika konvoi terpenggal oleh lampu merah. Dan lain sebagainya.

Di Purwokerto, konvoi pit-stop sejenak dan separuh peserta konvoi pamit meninggalkan rombongan.

Tinggal rombongan Yogyakarta Chapter dan Kediri Chapter yang meneruskan perjalanan hingga kemudian berpisah di Yogyakarta.

Alhasil, separuh malam itu diisi dengan keasyikan: asyik karena perjalanan kala itu begitu efektif dan efisien, bisa melaju relatif kencang namun tanpa harus ugal-ugalan dan membahayakan pengguna jalan lain.

***

Mengingat begitu pentingnya radio komunikasi, maka ayo bagi yang belum memiliki pesawat HT, pelan-pelan upayakan memilikinya., atau pinjam. Yang penting saat konvoi ada perangkat yang membuat perjalanan kita enggak “buta”.

Harga pesawat radio komunikasi sekarang sudah relatif terjangkau, khususnya untuk merk-merk dari China. Jauh lebih murah dari harga isi bensin full-tank kita. Kemampuannya pun lumayan, cukuplah buat pegangan kala turing. Meski pastikan membeli perangkat yang layak pakai/tidak cacat. Dan pastikan membeli perangkat jangan yang terlalu jelek, karena takutnya malah buang duit tanpa mendapatkan fungsi/hasil.

Kenali pula bahasa-bahasa sederhana dalam penggunaan radio komunikasi, seperti copythat/dimengerti/diterima, over/ganti, dll. Karena radio komunikasi itu meski dua arah namun dia tidak seamless. Jadi perlu bahasa radio komunikasi agar komunikasi dan pengiriman informasi yang ada bisa clear.

Dan jangan lupa ingat nomor lambung kita sendiri pun nomor lambung teman.

Kenapa harus menggunakan nomor lambung?

Sebenarnya enggak harus. Namun nomor lambung, yang notabene adalah nomor registrasi keanggotaan kita, adalah kebanggaan tersendiri bagi kita.

Lainnya itu, nomor lambung akan menghindari kerancuan pemanggilan. Bayangkan jika ada beberapa peserta konvoi dengan nama Agus, akan sangat panjang jika harus dipanggil Agus + predikat.

Akan lebih efisien jika dipanngil dengan call sign-nya: “Kosong satu tujuh monitor!”

Regards,
– Jagawara (humas) & jagawarga (keanggotaan) BMWCCI Kediri Chapter.

Surprise from Mobil1.

BUY MOBIL1 OIL – GET ONE COUPON, AND GET A CHANGE TO GET SPECIAL BMW MERCHANDISE: TRAVEL BAG | WALLET | FLASH DRIVE | KEYCHAIN | LANYARD | Etc

Oil purchases in the period August 1st – November 1st, 2019.

Post your photo with Mobil1 with Hastag #BMWCCIMobilOne and Tag @BMWCCI.Official

Winners will be drawn at the Indonesian Bimmerfest 2019, November 23rd. Surabaya – East Java.

More Information:
Humas BMW Car Clubs Indonesia
Hakeem +62 857-3120-7088
Reza +62 813-7612-0251
Rizky +62 811-1909-460
Indra +62 811-2652-368

Tujuh generasi BMW Seri 3.

Selama enam generasi, BMW Seri 3 telah merangkum semangat pada zamannya masing-masing. Tahun 2019 menandai dimulainya babak ketujuh yang baru dalam sejarah BMW Seri 3 yang termasyhur. Inilah perjalanan Seri 3 melalui waktu, ruang, dan desain – dari tahun 1975 hingga sekarang.

Bagi banyak penggemarnya, BMW Seri 3 adalah BMW terbaik dan inilah paras sesungguhnya BMW.

Adrian van Hooydonk (Senior Vice President BMW Group Design)

Generasi pertama.

  • Produksi: 1975-1983.
  • Tenaga: 55-105 kW / 75-143 hp.
  • Varian: Sedan (2-pintu), Convertible (Baur Topcabriolet).

Saat itu tahun 1975: tiket “Jaws” terjual ludes di bioskop dan memecahkan rekor box office di seluruh dunia. Anak-anak muda mengenakan celana komprang dan sepatu beralas tebal, dan rok mini masih menjadi mode yang paling diminati.

Di Stadion Olimpiade Munich, BMW Seri 3 pertama – sedan dua pintu penerus BMW 02 Series yang legendaris – diluncurkan ke dunia.

Desainnya berasal dari gagasan Paul Bracq, Direktur Desain BMW dari 1970 hingga 1974.

Sedan BMW Seri 3 tidak tertandingi dalam hal kinerja dinamis dan sportinya, dan meletakkan dasar bagi kisah sukses yang berlanjut hingga hari ini.

Ujung Ekor yang Memikat.

Generasi pertama BMW Seri 3 terkenal dengan profilnya yang khas dengan bagian ekor yang terangkat dan garis lipatan di sepanjang bodi.

Dilihat dari belakang, bagian belakang tidak sesuai selera semua orang, terutama bagian di antara lampu belakang. Hanya beberapa bulan setelah dimulainya produksi, para desainer menambahkan trim plastik hitam ke belakang.

Model pertama dalam jajaran BMW Seri 3 adalah sedan – dan Baur Topcabriolet yang legendaris (1977-1982). Baur GmbH yang berbasis di Stuttgart bertanggung jawab atas transformasi 4.595 BMW 3 Series menjadi convertible, yang menampilkan rollover bar dan rangka atap tetap.

Fitur Standar Dilahirkan.

BMW Seri 3 generasi pertama mencakup satu inovasi yang akan menjadi fitur standar di semua model BMW: dashboard miring ke arah pengemudi.

Detail desain lainnya – seperti overhang pendek di bagian depan, grill ginjal ganda, garis lipatan di sepanjang tubuh, lampu utama kembar yang ditemukan pada beberapa model, dan ketegaran Hofmeister di pilar-C – tetap hidup sebagai fitur gaya pada generasi berikutnya.

Garasi mobil termewah sedunia.

Saat kita lihat garasi mewah yang luar biasa indah ini, tampak jelas bagi sebagian kalangan bahwa cinta itu tak terbatas.

Parkir berseni.

“Driven34” adalah garasi sekaligus galeri. Koleksi mobil BMW yang mengesankan dari pebisnis Istanbul, Ey Eyilik dikelilingi oleh karya seni, layar datar, dan sofa yang nyaman untuk bersantai sebelum berangkat lagi.

Can Eyilik.
Can Eyilik.