Gadis Cirebon Pemenang The Voice of Germany.

Claudia Emmanuela Santoso namanya. Lahir di Cirebon, 27 Oktober 2000. Ia adalah juara ajang pencarian bakat menyanyi The Voice of Germany musim kesembilan yang ditayangkan di dua televisi nasional Jerman, Prosieben dan Sat.1 pada tahun 2019.

Kemenangannya menjadi torehan sejarah sebagai orang Indonesia sekaligus Asia pertama yang berhasil menjuarai ajang tersebut.

Claudia mengikuti sekolah musik sejak usia 4 tahun. Saat itu orang tua Claudia melihat adanya bakat dalam dunia musik. Bakat Claudia sendiri terlihat dari kebiasaannya sebelum tidur, yaitu bernyanyi atau mendengarkan musik.

Claudia mulai mengikuti ajang pencarian bakat di Indonesia dengan mengikuti AFI Junior pada tahun 2008, Idola Cilik pada tahun 2011 serta Mamamia pada tahun 2014.

Paman Claudia (kakak kandung dari ibunya) mendorongnya agar ambil kuliah di Jerman. Dengan inisiatif dari pamannya juga, Claudia dibiayai untuk mengikuti kursus di Goethe – Institute Indonesia di Bandung hingga selesai tahap A1. Pada saat liburan semester, dia didaftarkan untuk melanjutkan kursus bahasa Jerrman nya secara intensif di kursus bahasa Inlingua-Munich, Jerman hingga mencapai tahap A2.

Setelah lulus dari SMA, Claudia meninggalkan keluarga untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Munich, Jerman. Berkat dukungan dari Paman dan Tante-Tantenya untuk mengurus ijin tinggal dan segala persyaratan/keperluan lainnya, akhirnya Claudia bisa melanjutkan belajar di sana. Dari situlah Claudia mulai mewujudkan impiannya dengan mengikuti ajang pencarian bakat The Voice of Germany.

Claudia mengikuti audisi pertama ‘The Voice of Germany’ di kota Munchen/Munich pada Februari 2019. Dalam kontes ini, Claudia bersaing dengan kurang lebih 2.000 peserta dari berbagai asal. Maret 2019, Claudia mendapatkan berita bahwa ia lolos tahap pertama dan ia pun bisa lanjut ke tahap selanjutnya yang diadakan di Berlin hingga akhirnya Claudia lolos lagi ke tahap selanjutnya yaitu tahap Blind Audition.

Dalam tahap Blind Audition, Claudia membawakan lagu Never Enough yang merupakan soundtrack film The Greatest Showman. Penampilan Claudia dalam menyanyikan lagu ini menarik para juri The Voice of Germany hingga menjadi perhatian banyak orang di media sosial. Bahkan video Claudia saat Blind Audition menjadi salah satu video yang paling banyak ditonton dalam sejarah The Voice of Germany.

Claudia tampil konsisten dan sangat memukau selama berlangsungnya ajang The Voice of Germany. Hingga pada tahap final Claudia membawakan 3 lagu, yaitu “Castles”, “I Have Nothing” dan “Goodbye”.

Dengan perolehan 46,39% Claudia dinyatakan sebagai pemenang The Voice of Germany season ke-9 dan merupakan orang Asia pertama yang memenangkan ajang tersebut.

Pada malam final The Voice of Germany, Claudia membawakan singel perdananya yang berjudul Goodbye, berduet dengan pelatihnya Alice Merton. Sejak dirilisnya lagu Goodbye pada tanggal 10 November 2019, singel tersebut berhasil masuk chart di iTunes Indonesia dan beberapa negara di Eropa.

Kabut asap Riau.

Hutan adalah rumah bagi semua makhluk hidup. Kondisinya memberi pengaruh terhadap keberlangsungan hidup dalam ekosistem baik darat maupun laut.

Membakar hutan berarti membakar rumah: membakar kehidupan.

Mari dukung segala upaya pemadaman dan pemulihan, hingga semesta nan asri sudi kembali.


Anda bisa menyalurkan bantuan, baik uang ataupun masker dll, ke @palangmerah_indonesia (PMI) terdekat Anda

atau melalui saudara kita

@bmwcci.pekanbaru.chapter
BCA 0342891321 an. Adam Syafaat qq Reza Muktiwijaya

@bmwcci.padang_chapter
Bank Mandiri 111.002 2222 141
an. Fauzan Mulyana
CP:
– Anton Saiyo – 0812 6667 9980
– Boy Koto – 0853 7488 8444


Kita tidak bicara politis siapa yang salah atau bahkan apa yang salah di sini. Biarkan alam yang akan menjadi hakim yang maha adil nantinya atas semua ini.

Tapi saudara-saudara kita di sana sedang terengap-engap kena asap. Yuk kita bantu semampu kita, setidaknya dengan doa tulus ikhlas dari lubuk hati paling dalam.

Sambil kita di sini yuk kita hemat pemakaian air. Kemarau ini begitu gersang. Masih banyak saudara kita di banyak tempat yang kekeringan dan kesulitan air bersih.

Kita doakan segala bencana dan ujian ini segera terlampaui dan kita tidak mengulami kesalahan yang sama dua kali.

#Gambar & narasi awal dari @karyaadalahdoa
#RiauMelawanAsap
#RiauDaruratAsap
#IndonesiaBerduka

14022014.

14 02 2014. Gunung Kelud meletus. Gunung api terendah di Pulau Jawa ini mengirimkan abunya hingga ke Bandung bahkan Jakarta.

Kawasan Kediri sendiri seperti kota yang dibangun di atas gurun pasir; pasir hingga sejengkal tebalnya melapisi seluruh jalanan dan tanah terbuka di seantero kawasan.

Saat angin bertiup, debu vulkanik yang berbahaya juga membumbung menyelimuti seluruh kota. Jarak pandang sangat terbatas, dan semua mengenakan masker. Itu pun masih kerasa sesak di pernapasan. Sementara saat hujan turun, mendadak semuanya jadi lengket seperti lem.

Bukan cuman Kediri, kota-kota di sepanjang lintas tengah-selatan pulau Jawa, khususnya hingga Jawa Tengah juga merasakan dampaknya. Madiun, Solo, Yogya, Magelang dihajar debu vulkanik dan membuat kota-kota tersebut kelimpungan beraktivitas.

Sehari ataupun hari-hari awal pasca letusan, saluran radio komunikasi lokal mengabarkan bahwa pengungsi yg di pelosok masih sangat kekurangan makanan, obat, dan masker.

Dapur umum ada di posko induk utama, di kawasan SImpang Lima Gumul, tapi sama sekali tak ada tenaga untuk ngantar-ngantar makanan ke posko pelosok. Di posko pelosok pun juga tak ada tenaga untuk turun mengambil logistik ke kota. Maklum, jarak dari pusat kota ke kawasan Kelud itu sekitar 30km atau rata-rata satu jam perjalanan lancar, bukan 30 menit. Dan jelas waktu tempuh ini akan berlipat-lipat saat semua jalan terlapisi pasir.

Di posko besar masjid An-Nur Pare, ibu kota kabupaten yang berjarak 25 km utara-timur kota Kediri, radio lokal saat itu juga mengabarkan bahwa ribuan pengungsi belum mendapatkan makanan. Semuanya dikarenakan karena sangat kurangnya tenaga sukarelawan.

Sukarelawan adalah pahlawan. Saat mereka sendiri terkena dampak bencana: keluarga entah bagaimana kondisinya, bahkan diri sendiri pun juga harusnya ditolong, mereka harus menolong orang lain.

Baru setelahnya bantuan logistik dan tenaga sukarelawan datang dari berbagai penjuru lokasi. Kendaraan-kendaraan 4WD dari berbagai daerah datang dengan bantuan logistik dan menjadi transporter dari titik utama posko pengungsian ke titik-titik lokasi pengungsian yang menyebar di berbagai enjuru pelosok daerah.

Bencana telah membawa hikmah kekuatan bagi bangsa Indonesia. Gempa Lombok atau tsunami Palu – keduanya terjadi pada tahun 2018 menggambarkan pola yang serupa dengan letusan Gunung Kelud ini: kekurangan logistik dan sukarelawan pada awalnya, kemudian Indonesia berduyun-duyun datang untuk berbagi hati membantu merawat dan menyelamatkan saudara-saudara sebangsa setanah air ini.

#

Bagi rekan-rekan BMWCCI Kediri Chapter, 1402 ini adalah tanggal dan bulan yang tidak akan pernah mereka lupakan selamanya.

Hari bencana?

Bukan.

Ini adalah hari dimana Tuhan menunjukkan perhatiannya dengan mengirimkan pupuk terbaik semuka bumi. Usai letusan, tanah-tanah mendadak subur tiada terkira. Semua tanaman tumbuh dengan gemuk dan lebat.

Dan ini adalah hari dimana Tuhan mengingatkan umat manusia: jangan sombong dan belagu. Kena gunung meletus aja kita udah kocar-kacir morat-marit.

Masihkah kita berani jadi manusia yang sok-sokan lebih dari manusia lain atau bahkan semua makhluk Tuhan?

Masihkah kita berani jadi manusia yang berbuat kerusakan?

14022014 bagi rekan-rekan BMWCCI Kediri Chapter adalah hari dimana kita harus senantiasa mengingat untuk tidak berbuat kerusakan, sepanjang hari dan selamanya.

“Kami adalah BMWCCI Kediri Chapter, lahir dari letusan Gunung Kelud.” Demikian semangat yang terleput melalui akun IG resmi mereka.

Dalam bahasa Jawa, ledakan/letusan atau pun abu disebut dengan bledhug.[Red]

14 Februari 1945.

Monumen PETA.

Keduanya akan diramaikan oleh para pemuda. Hanya saja bedanya (barangkali), acara yang satu akan didatangi pemuda dengan sukarela, sedangkan acara yang satu ini akan didatangi para pemuda dengan memo khusus dari pihak sekolah dengan label “wajib hadir”.

Sebuah ekspresi api perjuangan yang dinyalakan di hari yang sama terpahat di dalam wajah-wajah itu, yang oleh sebagian besar orang mungkin hanya dianggap sebagai sebuah hiasan di sudut kota, atau sebatas karya seni yang ‘keren’ untuk dijadikan latar belakang dalam berfoto-foto. Tapi bagi saya, sungguh figur-figur yang mematung di hadapan saya telah menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa dalam menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia.

Oleh: Wima Brahmantya.

Saya tiba di Kota Blitar dan kemudian memacu kendaraan menuju Jalan Sodancho Supriyadi dan berhenti di depan tujuh patung serdadu yang terlihat gagah berani dengan ekspresi wajah yang tidak kenal rasa takut.

Tidak banyak warga Blitar yang tahu persis siapa saja ketujuh patung serdadu yang ada di sana. Tidak banyak pula warga Blitar yang menaruh kebanggaan bahwa monumen tersebut adalah salah satu ikon penting di Kota Blitar. Bahkan keberadaan lapak-lapak kaki lima di depan monumen tersebut membuat banyak pelancong yang tidak ngeh dengan keberadaan monumen yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan warga di Bumi Bung Karno tersebut.

Sedang ada persiapan di sekitar monumen tersebut untuk pentas malam nanti. Drama kolosal tahunan “Pemberontakan PETA Blitar” akan dipentaskan malam ini, bersaing dengan hingar-bingar “valentine day” di tempat lain, baik di televisi maupun tempat-tempat hiburan.

Keduanya akan diramaikan oleh para pemuda. Hanya saja bedanya (barangkali), acara yang satu akan didatangi pemuda dengan sukarela, sedangkan acara yang satu ini akan didatangi para pemuda dengan memo khusus dari pihak sekolah dengan label “wajib hadir”. Sekali lagi ini “barangkali”.

Saya berdiri tepat di hadapan patung tujuh serdadu tersebut, diiringi tetes gerimis air hujan yang mulai turun, mengamati ketujuh wajah tersebut. Sebuah ekspresi api perjuangan yang dinyalakan di hari yang sama –lebih dari enam dasawarsa yang lalu- terpahat di dalam wajah-wajah itu, yang oleh sebagian besar orang mungkin hanya dianggap sebagai sebuah hiasan di sudut kota, atau sebatas karya seni yang ‘keren’ untuk dijadikan latar belakang dalam berfoto-foto. Tapi bagi saya, sungguh figur-figur yang mematung di hadapan saya telah menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa dalam menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia.

Supriyadi, dr. Ismangil, Moeradi, Halir, Soedarmo, Soenanto, Soeparjono telah menginspirasi jutaan rakyat Indonesia, bahwa penindasan yang dilakukan oleh Tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia adalah hal yang tidak bisa ditoleransi, meskipun mereka mengaku sebagai “Saudara Tua bagi Indonesia”.

Mortir pertama yang ditembakkan di waktu subuh pada tanggal 14 Februari 1945 oleh pemuda-pemuda Blitar yang tergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air) tersebut, adalah sebuah penanda bahwa Jepang yang telah memberlakukan Romusha terhadap rakyat bukanlah sahabat yang dapat dipercayakan kepadanya tentang masa depan bangsa Indonesia, dan karena itu kemerdekaan bagi bangsa Indonesia wajib untuk diperjuangkan sendiri!

Tentu saja, aksi segelintir pemuda yang tidak mempersiapkan diri dengan matang dan cenderung hanya bondo nekad tersebut cukup mudah dipatahkan oleh Tentara Jepang yang lebih berpengalaman di bidang militer dan bersenjata lengkap, meskipun banyak juga korban yang jatuh dari pihak Jepang.

Enam pemuda yang dianggap paling bertanggung jawab atas pemberontakan itu : Moeradi, dr. Ismangil, Halir, Soeparjono, Soenanto, Soedarmo ditangkap dan kemudian dihukum penggal kepala. Sementara Soeprijadi melarikan diri dan hingga kini nasibnya tidak diketahui. Sedangkan anggota PETA Blitar lainnya dipenjara dan banyak yang meninggal di tahanan karena tidak tahan terhadap penyiksaan oleh tentara Jepang.

Meski demikian, hari itu : 14 Februari 1945, para Pemuda Blitar telah membelalakkan mata Jepang bahwa serdadu PETA yang sedianya dibentuk untuk membantu Jepang dalam Perang Pasifik melawan Sekutu bisa menjadi senjata makan tuan, dan kelak akan menjadi garda terdepan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia nantinya!

Kembali saya menatap wajah-wajah yang mematung di Monumen Pemberontakan PETA Blitar, karya seniman Aris Mukadar dan Bondan Widada tersebut. Mereka masih sangat belia waktu itu (sekitar 20-25 tahunan). Bahkan jauh lebih muda daripada usia saya saat ini. Tapi mereka memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi, yakni tidak tahan melihat penderitaan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air.

Mereka juga memiliki keberanian untuk mewujudkan keinginan mulia tersebut. Ya, keinginan mulia tanpa sebuah keberanian tidak akan banyak membantu, bukan?

Di zaman sekarang yang serba pragmatis ini, mari kita tanyakan kepada diri sendiri: berapa banyak pemuda yang memiliki rasa keadilan yang tinggi plus keberanian untuk mewujudkannya?

Saya kembali memacu kendaraan untuk meninggalkan lokasi monumen tersebut. Dan di sebelah saya beriringan tampak beberapa pemuda berboncengan sambil membawa hadiah yang dibungkus rapi, dengan wajah sumringah. Sepertinya mereka juga tidak ingin kalah dengan pemuda-pemudi di kota-kota besar dalam menikmati “Valentine Day”.

Salahkah mereka?

Tentu saja tidak. Tidak ada yang salah dengan bersuka cita di malam 14 Februari dan merayakannya dengan orang-orang yang kita kasihi.

Tapi mbok ya jangan lupa, di tanggal yang sama berpuluh-puluh tahun lalu, tujuh pemuda pemberani dari Blitar telah mempersembahkan darahnya demi kita semua yang hidup di Bumi Indonesia saat ini, sehingga hari ini kita bisa menikmati segarnya udara kemerdekaan dan mengisi hari-hari indah kita bersama-sama dengan orang-orang yang kita kasihi.

Apakah kita merasa pantas menjadi pewaris semangat patriotik pemuda-pemuda Blitar yang telah menunjukkan rasa cinta kasih yang tulus di “hari valentine” kepada Tanah Air Indonesia tercinta?

Mari saat ini kita renungkan, sudahkah kita berkorban harta, jiwa, dan raga untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Ibu Pertiwi?

Saya pun meninggalkan lokasi Monumen Pemberontakan PETA Blitar, untuk pulang ke rumah dan beristirahat sejenak, kemudian mandi, karena sudah tidak sabar untuk menyaksikan Soeprijadi dkk “hidup kembali” dalam pagelaran kolosal malam ini.

“ Jangan sampai negeri kita didominion-kan, jangan sampai kemerdekaan itu dihadiahkan, tetapi harus kita rebut sendiri, dengan kekuatan senjata! ” (Sodancho Soeprijadi).

Wima Brahmantya.
Penulis dikenal sebagai budayawan sejati yang nyambi jadi direktur pada Keboen Kopi Karanganjar.