Candi Sawentar.

Gmaps: https://goo.gl/maps/W94zYKKhw6H2

Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar. Desa ini secara administratif masuk wilayah Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sejalan dengan adanya sistem pemerintahan otonomi daerah, segala pengelolaan dan tanggung jawab kelestarian Candi Sawentar dan lingkungannya berada pada pemerintah Kabupaten Blitar. Sedangkan secara teknis arkeologis Candi Sawentar menjadi tanggung jawab Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan.

Ditinjau dari topografi lingkungannya, kawasan Sawentar dikelilingi oleh sungai. Sungai yang paling dekat dengan situs Sawentar adalah Ngasinan yang saat ini sudah tidak berfungsi lagi. Sungai ini sekaligus menjadi pemisah antara Candi Sawentar I dan II.

Dengan curah hujan 173 mm/tahun dan jumlah hujan rata-rata 124 hari/tahun. Iklim serta pantauan topografi inilah yang memberikan informasi bahwasanya wilayah situs Sawentar dan sekitarnya merupakan tanah yang subur.

Candi Sawentar tidak memiliki sistem zonasi. Untuk sementara ini zonasi yang terdapat dalam Situs Sawentar 1 sudah cukup baik, namun pada Situs Sawentar 2 masih butuh pemugaran dan penjagaan yang lebih tertata. Belum tertatanya Sawentar 2 karena masih dalam proses penelitian dan pengungkapan lagi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Candi ini terbuat dari batu andesit berukuran panjang 9,53 m, lebar 6,86 m dan tingginya 10,65 m. Pintu masuk menuju bilik berada di sebelah barat, dengan ornamen makara pada pipi tangga, sedangkan relung-relungnya terdapat pada setiap dinding luar tubuh candi. Di dalam ruangan bilik ditemukan reruntuhan arca dengan pahatan burung garuda, yang dikenal sebagai kendaraan Dewa Wisnu. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa Candi Sawentar merupakan bangunan suci yang berlatar belakang agama Hindu.

Nama candi Sawentar disebut-sebut di dalam Kitab Negarakertagama, Candi Sawentar disebut juga Lwa Wentar sebagai salah satu tempat yang dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk, seperti yang diungkapkan dalam kitab itu menyebutkan daerah bernama “Lwa Wentar”.

Bangunan candi ini dahulunya merupakan sebuah kompleks percandian, karena disekitarnya masih ditemukan sejumlah pondasi yang terbuat dari bata, dan candi ini diduga didirikan pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Candi Sawentar 1.

Awalnya candi ini tertimbun tanah dari bagian tengah hingga bawahnya. Pada tahun 1915 dan tahun 1920 – 1921 Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) Hindia Belanda melakukan penggalian pada bagian bawah candi yang tertimbun lahar Gunung Kelud.

Diketahui Gunung Kelud yang dituliskan dalam prasasti Palah, merupakan tempat dari Sang Hyang Acalapati atau dewa gunung yang pada masa Kertajaya diagungkan agar tidak murka. Hal ini juga diketahui dari bukti dan catatan geografis yang mengatakan bahwa Gunung Kelud sering meletus.

Pada saat ini jika kita amati Candi Sawentar berada di bawah permukaan tanah permukiman penduduk sekitarnya. Adapaun lapisan tanah yang bisa kita jumpai hasil bentukan dari vulkanik Gunung Kelud jika kita berada di tanah bagian selasar batur candi. Tanah asli pada saat candi ini dibangun adalah tanah yang berada di bawah selasar batur/kaki candi, bukan tanah yang menjadi pijakan rumah penduduk sekitar.

Pada tahun 1992 – 1993 Candi Sawentar dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (nama yang dipakai sejak 2011) Trowulan, Jawa Timur. Setelah dipugar, candi ini dijaga oleh juru pelihara (jupel) Bapak Sugeng Ahmadi (2000 hingga sekarang). Beliau ditemani oleh Mbak Punawati yang menjadi jupel 2.

Perawatan dan pemeliharaan sebuah situs diserahkan pada dua instansi negara. Di Candi Sawentar untuk pengolahan wisata dan pengembangan situs diserahkan pada Dinas Kebudayaan wilayah Sawentar. Perawatan dan pemeliharaan situs ditangani oleh BPCB Trowulan.

Bentuk perawatan yang dilakukan oleh BPCB Trowulan antara lain mengenai perawatan lingkungan dan penjagaan yang diembankan pada juru pelihara. Juga pendataan kemiringan dan kestabilan bangunan oleh arkeolog dan pegawai pusat. Untuk pengontrolan kemiringan dan kestabilan bangunan dilakukan ± dua tahun sekali.

Candi Sawentar 2.

Candi Sawentar 2 merupakan bangunan baru yang ditemukan pada tahun 1999 oleh bapak Sugeng Ahmadi ketika menggali sumur dan diekskavasi oleh BPCB Trowulan dibantu oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Mengenai latar belakang sejarah bangunan ini, menurut Baskoro Daru Tjahjono, adalah sebagai bangunan pengenang/monumen perang paregreg yang didirikan oleh Suhita atas meninggalnya ayah Suhita. Hal ini diketahui karena adanya relief yang berhubungan dengan sebuah angka tahun candrasengkala memet.

Candra sengkala kira-kira ada di Indonesia mulai tahun 700-1400 śaka, dan diduga berasal dari India.

Candra sengkala memiliki arti filosofis tersendiri sehingga menghasilkan nilai atau angka yang sesuai dengan jumlah tafsir lambangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *