Candi Sawentar.

Candra sengkala memiliki arti filosofis tersendiri sehingga menghasilkan nilai atau angka yang sesuai dengan jumlah tafsir lambangnya.

Dalam buku candra sengkala yang ditulis oleh R.M. Sajid, Naga berarti ular besar, memiliki nilai 8 karena naga memiliki 8 sifat, yaitu:

  1. Naga darbe kumara, yaiku mustika, minangka dadi pramanane, yen bengi bisa kanggo madhangi, mripate katon mancorong.
  2. Naga, darbe kasantosan linuwih, betah pati raga.
  3. Naga Andarbeni karoan.
  4. Naga andarbeni wisa mandi, Manawa manembur agawe sangsara.
  5. Naga andarbeni pang emekan bisa mulet sarta anggubet.
  6. Naga darba panguwasa panglulusan angulu, sarta bisa angling sungi.
  7. Naga andarbeni pangraketan, yaiku plengketan bisa cepet ngambah ing witwitan.
  8. Naga andarbeni aji nirmala, yaiku lenga sangkalputung aneng pethite, bisa nuntumake balung sungsum muwah kulit lan getah.

Raja memiliki nilai 1, karena dalam sebuah kerajaan tidak mungkin dipimpin oleh dua atau lebih raja. Dapat dianalogikan dengan saat ini bahwa setiap negara pasti punya 1 pemimpin. Begitu pula Indonesia yang memiliki 1 presiden.

Anahut memiliki nilai 3, hal ini karena diidentikkan dengan sifat api yang selalu menyahut/menyambar-nyambar. Selain itu makna filosofis dari api memiliki 3 sifat yang identik dengan timbulnya/munculnya api:

  1. Soko pangreko (korek, batu titikan).
  2. Soko sarono (arang, batu bara).
  3. Soko glap (petir).

Surya memiliki nilai 1 karena surya berarti matahari. Dalam alam semesta ini matahari tentunya hanya ada 1.

Ulasan candra sengkala di atas yang akhirnya didapati angka tahun 1318 śaka (1396 Masehi). Hal inilah seperti yang dikatakan Baskoro Daru Tjahjono merupakan sebuah monumen peringatan.

Memang sekilas bentuk Sawentar 2 bagian selatan hampir sama dengan candi Kama yang terdapat di Trawas Mojokerto. Sekilas dilihat memang ada keserupaan bentuk walau ukurannya tidak sama. Hanya pada candi Sawentar lebih kompleks temuannya sehingga diketahui dengan jelas fungsi dan sejarahnya.


Pendirian sebuah candi biasanya bertalian erat dengan peristiwa meninggalnya seorang raja. Hal ini dapat diketahui dari keterangan-keterangan yang termuat dalam kitab Nagarakrtagama dan kitab Pararaton.

Candi didirikan untuk mengabadikan “dharma”nya dan memuliakan rohnya yang telah bersatu dengan dewa penitisnya. Misalnya: Candi Jago merupakan tempat pendarmaan Raja Wisnuwardhana, Candi Singasari dan Candi Jawi untuk memuliakan Raja Kertanegara, dan Candi Simping untuk memuliakan Raja Kertarajasa.

Namun selain sebagai tempat pendarmaan raja yang telah meninggal , mungkin pula suatu bangunan suci didirikan untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi dalam suatu kerajaan atau latar belakang naik tahtanya seorang raja.

Pemahatan relief “nagaraja anahut surya” di candi Sawentar II kemungkinan merupakan penggambaran adanya peristiwa atau upaya perebutan tahta kerajaan di kerajaan Majapahit.

Pada masa pemerintahan Wikramadharma telah terjadi pertentangan keluarga, antara Wikramadharma yang memerintah wilayah bagian barat (Majapahit) dengan Bhre Wirabhumi yang memerintah wilayah bagian timur (daerah Balambangan). Di dalam serat Pararaton peristiwa itu disebut paregreg, yang mulai terjadi tahun 1323 saka.

Tahun 1318 saka yang tersirat dalam sengkalan “nagaraja anahut surya” sangat dekat dengan mulai terjadinya peristiwa paregreg. Jadi kemungkinannya sebelum terjadi peristiwa paregreg telah didahului dengan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan upaya perebutan tahta tersebut. Atau kemungkina angka tahun itu menunjuk tahun mulainya peristiwa paregreg.

Kemungkinan tahun yang disebut oleh penulis Pararaton kurang tepat, mengingat penulisan Pararaton jauh setelah peristiwa itu berlangsung (sekitar abad XVII Masehi), sedangkan Candi Sawentar II yang memuat sangkalan “nagara anahut surya” berasal dari tahun 1357 atau 1358 saka (1435/1436 Masehi).

Jadi candi Sawentar II didirikan oleh Suhita untuk memperingati peristiwa upaya perebutan tahta (paregreg) yang terjadi pada masa pemerintahan ayahnya.

Apabila diamati dari makna penggambaran naga yang mengenakan mahkota, sangat mungkin hal itu merupakan simbolisasi seorang raja yang marah, dan digambarkan sedang berusaha menelan matahari.

Sedangkan matahari yang dicaplok naga raja tersebut merupakan simbolisasi dari kekuasaaan Majapahit yang sedang dicabik-cabik untuk diruntuhkan. Sebab matahari yang digambarkan pada panil itu adalah “Surya Majapahit” yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit.

Dengan demikian penggambaran “nagaraj anahut surya” adalah untuk menggambarkan adanya upaya-upaya untuk meruntuhkan kekuasaaan Majapahit melalui perebutan tahta oleh Wirabhumi terhadap kekuasaan Wikramawardhana yang oleh Pararaton disebut “paregreg”.

Jadi maksud pendirian bangunan suci Sawentar II adalah untuk memperingati peristiwa Paregreg yang telah terjadi 40 tahun sebelum bangunan itu didirikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *