Candi Sawentar.

Struktur Candi Sawentar 2.

Dua buah batur empat persegi pajang berjajar membujur utara-selatan pada Candi Sawentar 2.

Candi Sawentar II adalah situs bangunan candi pada masa Hindu-Buddha yang ditemukan didukuh Centong, desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Situs ini berjarak kurang lebih 100 meter dari lokasi candi Sawentar I, tepatnya sebelah selatan candi sawentar I.

Lokasi situs candi Sawentar II berada di sekitar pasar Desa Sawentar.

Penemuan yang didapat dari situ candi sawentar dua.

Pertama:

  • Sebuah batu candi yang terbuat dari batu andesit berwarna agak keputihan.
  • Batu ambang candi berukuran panjang 73 cm, lebar 36 cm, dan tebal 20 cm. Batu ini memiliki angka tahun dan hiasan kepala kala pada kedua sudutnya.
  • Batu candi berukuran panjang 24 cm, lebar 23 cm dan tebal 17 cm.

Kedua:

  • Sebuah komponen candi dan dua buah kepala kala,
  • dua buah batu sudut berhias antefix,
  • dua buah batu yang tidak berhias antefix mungkin sudah runtuh, dan semuanya terbuat dari batu andesit yang berwarna keputihan.

Dan selanjutnya ditemukan 3 buah batu persegi berelief binatang dan 2 buah fragmen batu kemuncak.

Ketiga batu berelief hewan tersebut berukuran sama, masing-masing mempunyai panjang 61 cm, lebar 32 cm, dan tebal 29 cm.

  • Batu relief 1 menggambarkan adegan Ghanesa yang sedang menggigit matahari diapit dua ekor harimau.
  • Batu relief 2 yang menggambarkan adegan dua ekor kuda sedang berkejaran, kuda di depan menoleh ke belakang.
  • Batu relief 3 menggambarkan adegan dua ekor kuda saling berhadapan memperebutkan sebuah bola.

Dan ketiga panel berelief binatang tersebut terbuat dari batu andesit yang berwarna agak keputihan.

Penemuan selanjutnya yaitu

  • Sebuah fragmen miniatur candi bagian tubuh,
  • sebuah ambang atap dengan hiasan kepala kala,
  • 14 buah batu persegi bertakik,
  • dua buah batu sudut kemuncak berpelipit, dan
  • sebuah bata.

Lebih detailnya:

  • Fragmen batu kemuncak berukuran panjang 85 cm dan tinggi 27 cm.
  • Fragmen miniatur candi bagian tubuh mempunyai relung pintu dan berukuran panjang 74 cm, tingi 56 cm.
  • Ambang atap berhias kepala kala berukuran panjang 65 cm, tebal 30 cm, dan tinggi 29 cm.
  • Sedangkan batu-batu persegi mempunyai ukuran bervariasi, panjang antara 51 sampai 62 cm, lebar antara 24 sampai 26, dan tebal antara 13 samp[ai 15 cm.
  • Bata berukuran panjang 31 cm, lebar 18 cm, dan tebal 6 cm.

Berikutnya yang ditemukan adalah sebuah kompleks candi. Kompleks itu berbentuk struktur bangunan dari batu andesit yang berupa dua batur empat persegi pajang berjajar membujur utara-selatan. Di tengah-tengah batur itu terdapat sebuah lantai yang terbuat dari bata.

Di sebelah barat batur terdapat dua buah struktur bangunan bata yang kemungkinan berdenah bujur sangkar. Dan di sebelah timur terdapat dinding yang tertimbun tanah membujur dari utara ke selatan, dan mungkin itu adalah sebuah pagar.

Selanjutnya pada bulan Oktober 2000 berhasil diketahui pula bahwa halaman candi ini dibagi menjadi dua halaman. Denah pagar berbentuk empat persegi panjang melintang utara-selatan dengan ukuran 38,80 × 29,70 m2.

  • Halaman bagian utara terdapat gugusan bangunan berupa batur-batur dan pondasi miniatur candi, halaman ini berukuran 29,70 × 21,30 m2.
  • Sedangkan halaman selatan belum ditemukan gugusan bangunan, halaman ini berukuran 29,70 × 17,50 m2.

Penelitian tahap IV yang dilakukan pada bulan Septermber 2004 berhasil membuka 9 buah parit gali.

Penelitian yang difokuskan untuk mencari gugusan bangunan lain dan pintu masuk ke halaman candi hanya berhasil menemukan gugusan candi lain.

Gugusan bangunan candi lain itu ditemukan di halaman selatan pada kuadran timur laut juga.

Di halaman selatan ditemukan dua buah bangunan berbentuk kubus berjajar utara selatan dengan hiasan relief binatang kuda di masing-masing dindingnya.

Bangunan di selatan masih agak utuh, sedangkan yang di utaranya tinggal separuh.

Pintu masuk ke halaman candi belum berhasil ditemukan. Penelitian berlanjut hingga tahap V dan VI masing-masing pada tahun 2005 dan 2006.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *