14022014.

14 02 2014. Gunung Kelud meletus. Gunung api terendah di Pulau Jawa ini mengirimkan abunya hingga ke Bandung bahkan Jakarta.

Kawasan Kediri sendiri seperti kota yang dibangun di atas gurun pasir; pasir hingga sejengkal tebalnya melapisi seluruh jalanan dan tanah terbuka di seantero kawasan.

Saat angin bertiup, debu vulkanik yang berbahaya juga membumbung menyelimuti seluruh kota. Jarak pandang sangat terbatas, dan semua mengenakan masker. Itu pun masih kerasa sesak di pernapasan. Sementara saat hujan turun, mendadak semuanya jadi lengket seperti lem.

Bukan cuman Kediri, kota-kota di sepanjang lintas tengah-selatan pulau Jawa, khususnya hingga Jawa Tengah juga merasakan dampaknya. Madiun, Solo, Yogya, Magelang dihajar debu vulkanik dan membuat kota-kota tersebut kelimpungan beraktivitas.

Sehari ataupun hari-hari awal pasca letusan, saluran radio komunikasi lokal mengabarkan bahwa pengungsi yg di pelosok masih sangat kekurangan makanan, obat, dan masker.

Dapur umum ada di posko induk utama, di kawasan SImpang Lima Gumul, tapi sama sekali tak ada tenaga untuk ngantar-ngantar makanan ke posko pelosok. Di posko pelosok pun juga tak ada tenaga untuk turun mengambil logistik ke kota. Maklum, jarak dari pusat kota ke kawasan Kelud itu sekitar 30km atau rata-rata satu jam perjalanan lancar, bukan 30 menit. Dan jelas waktu tempuh ini akan berlipat-lipat saat semua jalan terlapisi pasir.

Di posko besar masjid An-Nur Pare, ibu kota kabupaten yang berjarak 25 km utara-timur kota Kediri, radio lokal saat itu juga mengabarkan bahwa ribuan pengungsi belum mendapatkan makanan. Semuanya dikarenakan karena sangat kurangnya tenaga sukarelawan.

Sukarelawan adalah pahlawan. Saat mereka sendiri terkena dampak bencana: keluarga entah bagaimana kondisinya, bahkan diri sendiri pun juga harusnya ditolong, mereka harus menolong orang lain.

Baru setelahnya bantuan logistik dan tenaga sukarelawan datang dari berbagai penjuru lokasi. Kendaraan-kendaraan 4WD dari berbagai daerah datang dengan bantuan logistik dan menjadi transporter dari titik utama posko pengungsian ke titik-titik lokasi pengungsian yang menyebar di berbagai enjuru pelosok daerah.

Bencana telah membawa hikmah kekuatan bagi bangsa Indonesia. Gempa Lombok atau tsunami Palu – keduanya terjadi pada tahun 2018 menggambarkan pola yang serupa dengan letusan Gunung Kelud ini: kekurangan logistik dan sukarelawan pada awalnya, kemudian Indonesia berduyun-duyun datang untuk berbagi hati membantu merawat dan menyelamatkan saudara-saudara sebangsa setanah air ini.

#

Bagi rekan-rekan BMWCCI Kediri Chapter, 1402 ini adalah tanggal dan bulan yang tidak akan pernah mereka lupakan selamanya.

Hari bencana?

Bukan.

Ini adalah hari dimana Tuhan menunjukkan perhatiannya dengan mengirimkan pupuk terbaik semuka bumi. Usai letusan, tanah-tanah mendadak subur tiada terkira. Semua tanaman tumbuh dengan gemuk dan lebat.

Dan ini adalah hari dimana Tuhan mengingatkan umat manusia: jangan sombong dan belagu. Kena gunung meletus aja kita udah kocar-kacir morat-marit.

Masihkah kita berani jadi manusia yang sok-sokan lebih dari manusia lain atau bahkan semua makhluk Tuhan?

Masihkah kita berani jadi manusia yang berbuat kerusakan?

14022014 bagi rekan-rekan BMWCCI Kediri Chapter adalah hari dimana kita harus senantiasa mengingat untuk tidak berbuat kerusakan, sepanjang hari dan selamanya.

“Kami adalah BMWCCI Kediri Chapter, lahir dari letusan Gunung Kelud.” Demikian semangat yang terleput melalui akun IG resmi mereka.

Dalam bahasa Jawa, ledakan/letusan atau pun abu disebut dengan bledhug.[Red]

BMWCCI Kediri Chapter membuka 2019.

“Dengan berkiprahnya emak-emak secara “resmi” di internal rumah tangga klub, diharapkan kekuatan BMWCCI Kediri Chapter sebagai klub yang menomorsatukan keluarga di atas segalanya, mengerucutkan kegiatan dan nuansa klub ke arah keluarga, berangkat dari dan mengembalikan apa yang didapat dari klub kembali ke keluarga akan semakin kuat dan semakin kuat lagi.”

BMWCCI Kediri Chapter, salah satu chapter di bawah klub resmi BMW Car Clubs Indonesia (BMWCCI) yang melingkupi kawasan Kediri Raya dan sekitarnya ini membuka tahun 2019 ini dengan momen sederhana namun spesial.

Ada satu momen yang diwujudkan dalam dua kegiatan dalam satu waktu sekaligus.

Momen tersebut adalah peresmian berdirinya sayap organisasi yakni Bimmernita Kedirian.

#5hine #5hiningforever

Untuk tahun 2019 ini, BMWCCI Kediri Chapter melahirkan sebuah semangat baru yang berjuluk: 5hine, yang dibaca shine yang berarti terang atau bercahaya.

“Agar BMWCCI Kediri Chapter menjadi klub yang semakin bercahaya dan bersinar terang!” Demikian penjelasan Mas Ghofar Ilmi, Lurah periode 2018 – 2020 BMWCCI Kediri Chapter.

“Selain itu juga agar lebih menyinari dan menerangi semua warganya pun semua teman, relasi, kolega, dan semuanya saja bisa lebih terang dalam merawat unitnya, dalam bersilaturahmi antar sesama dan semua, dan semakin kuat menjaga budaya tertib lalu-lintas di jalan raya.” Tambah bapak empat anak ini.

Untuk menguatkan semangat ini, diluncurkan dua tagar/hastag yang dipakai di beragam media sosial dan komunikasi resmi BMWCCI Kediri Chapter, yakni #5hine dan #5hiningforever

Bibit-bibit terbentuknya BMWCCI Kediri Chapter telah ada sejak era 2010. Hingga pada tahun 2014 klub ini resmi dibentuk, berdiri, dan dikukuhkan menjadi bagian dari bagian dari keluarga BMW Car Clubs Indonesia, klub resmi BMW yang berpusat langsung di Jerman sana.

BMWCCI Kediri Chapter belum merancang jenis kegiatan khusus berkaitan dengan manifestasi semangat 5hine ini. Namun apapun nantinya yang akan diperbuat oleh klub ini, semangat 5hine ini semoga akan senantiasa melingkupinya. Mohon dukungan, masukan, dan doa restunya senantiasa.

– Jaga Wara BMWCCI Kediri Chapter.

Palma Merasa Nyaman Mengendarai BMW.

Palma Septiany Putri.

SEJAK dua tahun terakhir, Palma Septianyputri mengendari BMW seri 528i-E39 warna silver. Banyak perbedaan yang ia rasakan dibanding tunggangan sebelumnya. Kenyamanan yang paling utama.

“Lebih enak dipakai. Yang pertama mesin terasa halus. Interior juga oke. Meski second tapi tidak terlalu berasa,” ungkap Palma yang seorang penari ini.

BMW milik Palma merupakan keluaran 1997. Ia membeli dari rekannya dengan harga yang cukup bersahabat. Kendaraan asal Eropa ini memang dikenal jauh lebih murah jika membeli second.

Yang terlintas di pikiran saat memilih kendaraan second dengan harga miring tentu kondisi si BMW. Benarkah masih bagus atau ada bagian yang sudah aus. Terlintas pikiran salah-salah nanti biaya untuk perbaikan justru jadi mahal.

Ini pula yang sebelumnya sempat terbersit di pikiran warga BMWCCI Semarang Chapter ini. Untungnya, ia sukses mendapat kendaraan yang kualitasnya masih bagus. Setelah resmi terbeli, tidak banyak perbaikan yang mesti dilakukan. Ia hanya melakukan sedikit modifikasi, itu pun agar BMW-nya sesuai seperti yang ia inginkan.

“Intinya memang harus hati-hati. Kalau membeli kendaraan second sebaiknya bawa teman yang mengerti seluk-beluk mesin merk yang bersangkutan. Jadi tidak seperti beli kucing dalam karung,” kata Palma.

Sejauh ini, ia menandaskan, tidak memiliki problem dengan E 39-nya. Ia justru menyesal, kenapa tidak sejak dulu mengganti tunggangannya dengan mobil keluaran Eropa tersebut.

Untuk perawatan, setiap bulan Palma melakukan servis general ke Astra, ganti oli mesin, oli matic dan oli rem. Berkat servis yang tertib, tidak ada permasalahan berarti pada kendaraannya.

“Kalau soal modifikasi, karena lebih ke selera ya. Tapi aku juga tidak banyak melakukan modif. Mesin dan bodi tetap asli. Kalau diganti malah jadi berkurang nilainya,” imbuh Palma.

Modif paling besar (dari segi biaya) ia lakukan pada velg. Palma mengganti velg bawaan dengan tipe racing 19 inci. Hasilnya, mobil makin gagah, sporty dan elegan. Untuk itu, ia mengeluarkan dana sebesar Rp 8 juta.

Karena sering touring ia juga memasang fog lamp untuk kondisi berkabut atau kala hujan. Selain itu ia memasang kaca film V-Kool 80 persen agar berkendara juga lebih nyaman.

[Repost]