Tujuh generasi BMW Seri 3.

Selama enam generasi, BMW Seri 3 telah merangkum semangat pada zamannya masing-masing. Tahun 2019 menandai dimulainya babak ketujuh yang baru dalam sejarah BMW Seri 3 yang termasyhur. Inilah perjalanan Seri 3 melalui waktu, ruang, dan desain – dari tahun 1975 hingga sekarang.

Bagi banyak penggemarnya, BMW Seri 3 adalah BMW terbaik dan inilah paras sesungguhnya BMW.

Adrian van Hooydonk (Senior Vice President BMW Group Design)

Generasi pertama.

  • Produksi: 1975-1983.
  • Tenaga: 55-105 kW / 75-143 hp.
  • Varian: Sedan (2-pintu), Convertible (Baur Topcabriolet).

Saat itu tahun 1975: tiket “Jaws” terjual ludes di bioskop dan memecahkan rekor box office di seluruh dunia. Anak-anak muda mengenakan celana komprang dan sepatu beralas tebal, dan rok mini masih menjadi mode yang paling diminati.

Di Stadion Olimpiade Munich, BMW Seri 3 pertama – sedan dua pintu penerus BMW 02 Series yang legendaris – diluncurkan ke dunia.

Desainnya berasal dari gagasan Paul Bracq, Direktur Desain BMW dari 1970 hingga 1974.

Sedan BMW Seri 3 tidak tertandingi dalam hal kinerja dinamis dan sportinya, dan meletakkan dasar bagi kisah sukses yang berlanjut hingga hari ini.

Ujung Ekor yang Memikat.

Generasi pertama BMW Seri 3 terkenal dengan profilnya yang khas dengan bagian ekor yang terangkat dan garis lipatan di sepanjang bodi.

Dilihat dari belakang, bagian belakang tidak sesuai selera semua orang, terutama bagian di antara lampu belakang. Hanya beberapa bulan setelah dimulainya produksi, para desainer menambahkan trim plastik hitam ke belakang.

Model pertama dalam jajaran BMW Seri 3 adalah sedan – dan Baur Topcabriolet yang legendaris (1977-1982). Baur GmbH yang berbasis di Stuttgart bertanggung jawab atas transformasi 4.595 BMW 3 Series menjadi convertible, yang menampilkan rollover bar dan rangka atap tetap.

Fitur Standar Dilahirkan.

BMW Seri 3 generasi pertama mencakup satu inovasi yang akan menjadi fitur standar di semua model BMW: dashboard miring ke arah pengemudi.

Detail desain lainnya – seperti overhang pendek di bagian depan, grill ginjal ganda, garis lipatan di sepanjang tubuh, lampu utama kembar yang ditemukan pada beberapa model, dan ketegaran Hofmeister di pilar-C – tetap hidup sebagai fitur gaya pada generasi berikutnya.

BMW Serie-3 E36

Ini bukan tentang bahasan teknis. Ini tentang bahasan non-teknis. Ini tentang ocehan garing dan iseng saya pribadi.

BMW Serie-3 E36 ini menurut saya pribadi sungguh mengindonesia banget. Dan emang generasi ketiga Serie-3 ini bisa dibilang begitu populer di Indonesia.

Tampangnya cakep: fase peralihan dari era klasik ke modern yang ditandai dengan terbungkus/cover-nya lampu depan; enggak terkesan kuno dan masih update – enggak ketinggalan jaman bahkan hingga 25 tahun usianya kini, sehingga para ibu banyak yg menyetujui bahkan mendorong suaminya memilih seri ini ketimbang Serie-5;

perawatannya relatif mudah dan murah meriah;

handling-nya yang bahkan minim fitur kontrol bodi pun terasa masih susah ditandingi -bahkan dikalahkan- bahkan oleh sesama BMW generasi-generasi setelahnya;

dan memberikan opsi yang lumayan luas – hingga membentuk semacam mazhab kepada penggemarnya: mulai dari mazhab 4cyls yang super hemat – hingga orang kadang tak percaya bahwa BMW bisa irit BBM dan murmer perawatan, hingga mazhab 6 cyls yang buasss cetar membahana.

Harga jual rata-ratanya kini tak bisa dibilang hancur. Harganya sudah stabil, menyusul & mengikuti harga rata-rata E30 yang telah duluan malah menanjak naik. Bahkan setara dengan harga E46 yang mulai melorot karena kondisi pasar.

Dan, E36 bukan hanya asyik di tol. Meliuk-liuk di kelok-kelok pegunungan adalah joy tak terkira dengan E36.

– Freema HW

Opini ini juga tayang di https://www.instagram.com/p/BnqTMglAJRO/