14 Februari 1945.

Monumen PETA.

Keduanya akan diramaikan oleh para pemuda. Hanya saja bedanya (barangkali), acara yang satu akan didatangi pemuda dengan sukarela, sedangkan acara yang satu ini akan didatangi para pemuda dengan memo khusus dari pihak sekolah dengan label “wajib hadir”.

Sebuah ekspresi api perjuangan yang dinyalakan di hari yang sama terpahat di dalam wajah-wajah itu, yang oleh sebagian besar orang mungkin hanya dianggap sebagai sebuah hiasan di sudut kota, atau sebatas karya seni yang ‘keren’ untuk dijadikan latar belakang dalam berfoto-foto. Tapi bagi saya, sungguh figur-figur yang mematung di hadapan saya telah menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa dalam menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia.

Oleh: Wima Brahmantya.

Saya tiba di Kota Blitar dan kemudian memacu kendaraan menuju Jalan Sodancho Supriyadi dan berhenti di depan tujuh patung serdadu yang terlihat gagah berani dengan ekspresi wajah yang tidak kenal rasa takut.

Tidak banyak warga Blitar yang tahu persis siapa saja ketujuh patung serdadu yang ada di sana. Tidak banyak pula warga Blitar yang menaruh kebanggaan bahwa monumen tersebut adalah salah satu ikon penting di Kota Blitar. Bahkan keberadaan lapak-lapak kaki lima di depan monumen tersebut membuat banyak pelancong yang tidak ngeh dengan keberadaan monumen yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan warga di Bumi Bung Karno tersebut.

Sedang ada persiapan di sekitar monumen tersebut untuk pentas malam nanti. Drama kolosal tahunan “Pemberontakan PETA Blitar” akan dipentaskan malam ini, bersaing dengan hingar-bingar “valentine day” di tempat lain, baik di televisi maupun tempat-tempat hiburan.

Keduanya akan diramaikan oleh para pemuda. Hanya saja bedanya (barangkali), acara yang satu akan didatangi pemuda dengan sukarela, sedangkan acara yang satu ini akan didatangi para pemuda dengan memo khusus dari pihak sekolah dengan label “wajib hadir”. Sekali lagi ini “barangkali”.

Saya berdiri tepat di hadapan patung tujuh serdadu tersebut, diiringi tetes gerimis air hujan yang mulai turun, mengamati ketujuh wajah tersebut. Sebuah ekspresi api perjuangan yang dinyalakan di hari yang sama –lebih dari enam dasawarsa yang lalu- terpahat di dalam wajah-wajah itu, yang oleh sebagian besar orang mungkin hanya dianggap sebagai sebuah hiasan di sudut kota, atau sebatas karya seni yang ‘keren’ untuk dijadikan latar belakang dalam berfoto-foto. Tapi bagi saya, sungguh figur-figur yang mematung di hadapan saya telah menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa dalam menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia.

Supriyadi, dr. Ismangil, Moeradi, Halir, Soedarmo, Soenanto, Soeparjono telah menginspirasi jutaan rakyat Indonesia, bahwa penindasan yang dilakukan oleh Tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia adalah hal yang tidak bisa ditoleransi, meskipun mereka mengaku sebagai “Saudara Tua bagi Indonesia”.

Mortir pertama yang ditembakkan di waktu subuh pada tanggal 14 Februari 1945 oleh pemuda-pemuda Blitar yang tergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air) tersebut, adalah sebuah penanda bahwa Jepang yang telah memberlakukan Romusha terhadap rakyat bukanlah sahabat yang dapat dipercayakan kepadanya tentang masa depan bangsa Indonesia, dan karena itu kemerdekaan bagi bangsa Indonesia wajib untuk diperjuangkan sendiri!

Tentu saja, aksi segelintir pemuda yang tidak mempersiapkan diri dengan matang dan cenderung hanya bondo nekad tersebut cukup mudah dipatahkan oleh Tentara Jepang yang lebih berpengalaman di bidang militer dan bersenjata lengkap, meskipun banyak juga korban yang jatuh dari pihak Jepang.

Enam pemuda yang dianggap paling bertanggung jawab atas pemberontakan itu : Moeradi, dr. Ismangil, Halir, Soeparjono, Soenanto, Soedarmo ditangkap dan kemudian dihukum penggal kepala. Sementara Soeprijadi melarikan diri dan hingga kini nasibnya tidak diketahui. Sedangkan anggota PETA Blitar lainnya dipenjara dan banyak yang meninggal di tahanan karena tidak tahan terhadap penyiksaan oleh tentara Jepang.

Meski demikian, hari itu : 14 Februari 1945, para Pemuda Blitar telah membelalakkan mata Jepang bahwa serdadu PETA yang sedianya dibentuk untuk membantu Jepang dalam Perang Pasifik melawan Sekutu bisa menjadi senjata makan tuan, dan kelak akan menjadi garda terdepan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia nantinya!

Kembali saya menatap wajah-wajah yang mematung di Monumen Pemberontakan PETA Blitar, karya seniman Aris Mukadar dan Bondan Widada tersebut. Mereka masih sangat belia waktu itu (sekitar 20-25 tahunan). Bahkan jauh lebih muda daripada usia saya saat ini. Tapi mereka memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi, yakni tidak tahan melihat penderitaan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air.

Mereka juga memiliki keberanian untuk mewujudkan keinginan mulia tersebut. Ya, keinginan mulia tanpa sebuah keberanian tidak akan banyak membantu, bukan?

Di zaman sekarang yang serba pragmatis ini, mari kita tanyakan kepada diri sendiri: berapa banyak pemuda yang memiliki rasa keadilan yang tinggi plus keberanian untuk mewujudkannya?

Saya kembali memacu kendaraan untuk meninggalkan lokasi monumen tersebut. Dan di sebelah saya beriringan tampak beberapa pemuda berboncengan sambil membawa hadiah yang dibungkus rapi, dengan wajah sumringah. Sepertinya mereka juga tidak ingin kalah dengan pemuda-pemudi di kota-kota besar dalam menikmati “Valentine Day”.

Salahkah mereka?

Tentu saja tidak. Tidak ada yang salah dengan bersuka cita di malam 14 Februari dan merayakannya dengan orang-orang yang kita kasihi.

Tapi mbok ya jangan lupa, di tanggal yang sama berpuluh-puluh tahun lalu, tujuh pemuda pemberani dari Blitar telah mempersembahkan darahnya demi kita semua yang hidup di Bumi Indonesia saat ini, sehingga hari ini kita bisa menikmati segarnya udara kemerdekaan dan mengisi hari-hari indah kita bersama-sama dengan orang-orang yang kita kasihi.

Apakah kita merasa pantas menjadi pewaris semangat patriotik pemuda-pemuda Blitar yang telah menunjukkan rasa cinta kasih yang tulus di “hari valentine” kepada Tanah Air Indonesia tercinta?

Mari saat ini kita renungkan, sudahkah kita berkorban harta, jiwa, dan raga untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Ibu Pertiwi?

Saya pun meninggalkan lokasi Monumen Pemberontakan PETA Blitar, untuk pulang ke rumah dan beristirahat sejenak, kemudian mandi, karena sudah tidak sabar untuk menyaksikan Soeprijadi dkk “hidup kembali” dalam pagelaran kolosal malam ini.

“ Jangan sampai negeri kita didominion-kan, jangan sampai kemerdekaan itu dihadiahkan, tetapi harus kita rebut sendiri, dengan kekuatan senjata! ” (Sodancho Soeprijadi).

Wima Brahmantya.
Penulis dikenal sebagai budayawan sejati yang nyambi jadi direktur pada Keboen Kopi Karanganjar.

Januari ini: penjualan global BMW Group meningkat.

Pengiriman meningkat 0,5% menjadi 170.463 +++ Penjualan BMW naik 0,8% menjadi 149.616 +++ Pendorong pertumbuhan utama dari China daratan +++ Penjualan BMW i3 meningkat 30,4% +++ Nota: “Diharapkan pertumbuhan lebih lanjut tahun ini” +++

BMW Group telah mengawali tahun 2019 ini dengan hasil penjualan yang positif: pengiriman global dari tiga merek otomotif premium perusahaan meningkat 0,5% pada bulan Januari, dengan total 170.463 mobil BMW, MINI dan Rolls-Royce dikirimkan kepada pelanggan. Ini adalah awal perusahaan terkuat yang pernah ada hingga satu tahun, dicapai meskipun tantangan saat ini mempengaruhi industri di beberapa pasar.

“Kami senang telah mencapai peningkatan penjualan pada bulan Januari, meskipun kondisi pasar sedang begitu menantang di seluruh dunia,” kata Pieter Nota, Anggota Dewan Manajemen BMW AG yang bertanggung jawab untuk Penjualan dan Merek BMW.

“Kami berharap sedikit pertumbuhan pada tahun 2019, meskipun perubahan model BMW Seri 3, model terlaris sepanjang masa kami, akan berdampak pada penjualan pada kuartal pertama. Pertumbuhan akan didorong terutama oleh ketersediaan penuh BMW X5, pengenalan BMW X7 terbaru, dan tentu saja generasi ketujuh dari BMW Seri 3. Pada bulan Januari, saya juga senang melihat penjualan kendaraan listrik kami tumbuh, meskipun ada pergantian dua model utama. Pada akhir tahun ini, jumlah kendaraan listrik BMW Group di jalan-jalan di seluruh dunia akan berjumlah lebih dari setengah juta. ” Demikian tambahnya.

Terlihat pada Januari ini penjualan BMW naik 0,8% menjadi total 149.616 kendaraan yang dikirim secara global, rekor baru untuk bulan ini. Suplai khusus beberapa model kompak dan perbaruan model BMW X5 dan BMW Seri 3 saat ini diimbangi oleh penjualan BMW X3, yang lebih dari dua kali lipat (22.818 / + 138,3%) dan penjualan BMW X4 baru (4,397 / + 36,9%).

Secara keseluruhan penjualan kendaraan listrik BMW Group meningkat 1,4% dibandingkan dengan Januari tahun lalu, dengan total 7.234 dikirimkan ke pelanggan di seluruh dunia.

Peningkatan ini dicapai meskipun terjadi keterbatas persediaan dari dua kendaraan hybrid plug-in utama dikarenakan adanya pergantian model: diperkenalkannya BMW 330e dan BMW X5 xDrive45e baru akhir tahun ini guna mendukung pertumbuhan penjualan lebih lanjut dari ragam kendaraan listrik BMW.

BMW i3 adalah kendaraan listrik terlaris. Akhir tahun 2018 kemarin diperkenalkan model dengan baterai opsional baru yang lebih kuat. Ini membantu meningkatkan penjualan i3 pada Januari 2019 ini menjadi 2.598 menjadi 30,4% lebih tinggi dari pada bulan yang sama tahun lalu.

BMW 530e (kombinasi konsumsi bahan bakar: 2.2-2.1 l / 100 km; kombinasi konsumsi daya: 13.6-13.3 kWh / 100 km, gabungan emisi CO2: 49-47 g / km) juga merupakan pendorong pertumbuhan yang signifikan, dengan pengiriman naik 82.0 % (1,722).

Pada tahun 2019 ini juga akan diluncurkan MINI Electric – mobil bertenaga listrik sepenuhnya. Renacana akan diperkenalkan kepada publik akhir tahun ini.

Diluncurkan berdasarkan kesuksesan MINI Countryman Cooper SE plug-in hybrid (gabungan konsumsi bahan bakar: 2,5-2,4 l / 100 km, gabungan konsumsi daya 13,7-13,4 kWh / 100 km, gabungan emisi CO2: 56-55 g / km), yang telah meningkatkan penjualannya sebesar 25,7% pada bulan Januari (1,027) yang mana ini artinya 18,0% dari total penjualan MINI Countryman.

Pengiriman Januari untuk kendaraan merek MINI mencapai 20.575 (-1,7%).

Setelah tahun kedelapan rekor penjualan berturut-turut, BMW Motorrad mengawali tahun 2019 dengan peningkatan penjualan 1,5%. Secara total, 8.578 sepeda motor BMW Motorrad premium dan skuter maksimal dikirim ke pelanggan di seluruh dunia pada bulan Januari.

Alpina B7: Sedan tercepat sejagad.

Tenaga, dinamika, dan kemewahan dalam desain kontemporer baru.

Sejak 2016, BMW ALPINA B7 G12 telah menjadi tambahan portofolio model ALPINA, membuat penggemarnya di seluruh dunia begitu terkesan dengan kinerja luar biasa dan pengalaman berkendara yang tak tertandingi.

Setelah mengalami pembaruan komprehensif, BMW ALPINA B7 memasuki babak baru pada tahun 2019: tajam, mewah, dan begitu berperforma. Dengan dapur pacu dan transmisi yang disempurnakan, desain yang direvisi secara menyeluruh dan fitur asisten pengemudi dan sistem konektivitas mutakhir, BMW ALPINA B7 terbaru siap untuk menyenangkan para pelanggan briliannya.

Mesin V8 4.4 liter generasi terbaru dengan induksi Bi-Turbo menghasilkan 447 kW (608 hp) dan torsi 800 Nm (590 lb-ft). Dengan peningkatan tenaga dan torsi yang signifikan pada rpm rendah dan teknologi transmisi canggih, BMW ALPINA B7 terbaru ini berakselerasi dari 0 hingga 100 km / jam (0 hingga 62 mph) hanya dalam 3,6 detik (sebelumnya 3,7 detik) dan dapat mencapai kecepatan maksimum dari 330 km / jam (205 mph).

Mode Sport+ spesial ALPINA akan menyesuaikan semua pengaturan kendaraan, dapur pacu dan transmisi, serta suspensi untuk kinerja dinamis maksimum dan menurunkan ketinggian kendaraan sebesar 15 mm (0,6 ”) dengan satu sentuhan tombol saja.

Cakupan fitur yang diperluas dari BMW ALPINA B7 terbaru mencakup sistem infotainmen dan navigasi canggih, fitur kenyamanan yang diperluas, dan sistem keselamatan canggih seperti Driving Assistant Professional, sebagai standar.

Konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 diukur sesuai dengan prosedur tes WLTP yang baru. BMW ALPINA B7 baru memenuhi standar emisi Euro 6d terbaru dan fitur filter partikulat bensin yang mengurangi emisi seminimal mungkin. Konsumsi bahan bakar digabungkan sesuai dengan Peraturan (EC) 715/2007 dalam versi saat ini adalah 11,6 l / 100 km dengan emisi CO2 265 g / km.

Kendaraan yang mampu melaju 200-mph (320 kmh) itu sangat terbatas. Kurang dari 20 mobil ada di pasaran, dengan lima diantaranya adalah sedan. Dan saat ini, yang keenam telah bergabung.

Alpina B7 telah diperbarui (facelift) untuk versi 2020, dan diklaim sanggup mencapai kecepatan puncak 205-mph, menjadikannya sedan empat pintu tercepat di golongan ini. Roadandtrack.com menengarai inilah sedan empat pintu terceat yang pernah ada.

Alpina mengatakan bahwa B7 generasi saat ini (G12) sebenarnya sanggup berlari 205 mph sebelum pembaruan (facelift) model tahun 2020. Tetapi di AS itu dibatasi hanya sampai 192 mph saja

Juru bicara dari BMW USA mengatakan bahwa B7 2020 akan mampu menghasilkan 205 mph sepenuhnya.

Dengan bercanda, ia juga mengatakan bahwa B7 dapat dipasangkan dengan ban all-season, namun kecepatan tertinggi bakal dibatasi hingga 130 mph. 😀 [Red]

Cruising speed.

Suatu ketika, saya dipasrahi kunci untuk duduk di belakang kemudi sebuah E36 milik seorang kolega. Jujur saja, saya memacunya 140-160 kpj di ruas tol antara Salatiga, Jawa Tengah hingga Madiun, Jawa Timur.

Lari segitu, eh kami masih berkali-kali disalip oleh kendaraan lain, yang banyak diantaranya berjenis MPV ukuran menengah di sini.

Entah kenapa, mendadak saya koq justru malah ketakutan melihat mereka.

Karena ketakutan melihat kencangnya laju kendaraan lain, akhirnya saya turunkan kecepatan dan stabil di 120-130 kpj. Itu pun karena sandal di kaki saya rasanya masih terlalu berat sehingga enggak sadar masih menekan pedal gas. Alhasil, jadinya terasa susah dan perlu usaha serta konsentrasi tambahan justru untuk mengangkat pedal gas ke maksimal 100 kmh aja, sesuai batas legal maksimal jalan tol.

Bayangkan, perlu usaha serta konsentrasi tambahan justru bukan untuk melaju kencang, melainkan untuk menjaga kecepatan stabil di 100 kpj. Sementara banyak rekan bilang, mengendarai BMW di jalan tol dengan kecepatan 80 kpj itu rasanya seperti orang bingung dan justru berpotensi kita tanpa sadar melamun di jalan.

Dilematis.

Menurut subyektif saya pribadi, cruising-speed BMW, model apapun, itu paling pas enak nyaman enggak bikin ngantuk namun juga enggak terasa ngebut itu di 120 kpj. Kecepatan 100 kpj apalagi “cuma” 80 kpj itu rasanya masih berpotensi bikin ngelamun di jalan.

Sementara batasan kecepatan melaju di jalan tol adalah minimal 60 kpj dan maksimal 100 kpj, tergantung ruas sepertinya ada yang 110 kpj.

Dilematis.


Mengendarai BMW di jalan tol yang lengang dan panjang itu menyenangkan. Namun musuh utamanya bukanlah capek ataupun rasa kantuk, melainkan mendadak tanpa sadar (tentunya) melamun. Melamun, beda dengan mengantuk.

Kita boleh saja berangkat dalam kondisi segar bugar waras-wiris sehat walfiat enggak gampang ngantuk, tensi darah stabil, gula darah normal, rpm jantung normal; tapi kalau terkena “sindrom” tol puanjang lempeng, bisa-bisa mendadak seperti melamun sambil kala mengemudi jika enggak ada navigator yang lihai menjaga ritme psikologis kita.

Navigator harus secara temporer mengajak kita ngobrol/bicara untuk mengetahui kondisi psikologi kita. Namun jika terlalu kerap mengobrol, kadang bisa mengganggu konsentrasi juga. Sementara jika terlalu lama diam, kembalinya itu tadi: berpotensi melamun.

  • Freema HW, sekedar catatan.